Ringkasan Berita:
- Pentagon memutuskan untuk mengembalikan nama Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat (INDOPACOM) menjadi Komando Pasifik Amerika Serikat (PACOM), dengan alasan untuk menghormati sejarah panjang dari komando tersebut sejak tahun 1947.
- Keputusan ini memicu berbagai spekulasi mengenai geopolitik, karena istilah “Indo-Pasifik” selama ini dianggap mencerminkan peran penting India dalam upaya AS untuk menyeimbangkan pengaruh Tiongkok di kawasan Asia.
- Pergantian nama terjadi di tengah ketegangan hubungan Amerika Serikat dan India
majalahkoran.com Amerika Serikat mengumumkan bahwa Komando Indo-Pasifik Amerika (INDOPACOM) akan kembali menggunakan nama lama mereka, yaitu Komando Pasifik Amerika (USPACOM atau PACOM).
Komando Pasifik Amerika Serikat adalah komando militer yang menggabungkan berbagai kekuatan operasional di kawasan Asia-Pasifik dan Samudra Hindia, mencakup sekitar separuh permukaan bumi.
Meskipun mengganti nama, wilayah tanggung jawab geografis PACOM tetap sama, yaitu mencakup daerah dari Pantai Barat Amerika Serikat hingga perbatasan barat India.
Tujuan utamanya tetap menjaga wilayah yang bebas dan terbuka.
Indonesia terletak di tengah kawasan Indo-Pasifik, antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, sehingga menjadi pusat penting bagi jalur perdagangan dan keamanan internasional.
Lalu, Mengapa Kata “Indo” Dihapus?
Mengutip TRT World, Penjelasan resmi Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon menyatakan bahwa mereka hanya mengembalikan nama PACOM yang telah digunakan sejak tahun 1947, sebelum pemerintahan pertama Presiden Donald Trump mengubahnya menjadi INDOPACOM pada 2018.
Namun di bidang geopolitik, nama memiliki makna yang signifikan karena menggambarkan prioritas strategis.
“Perubahan nama ini menghargai akar sejarah yang mendalam dari komando tersebut, membangkitkan rasa percaya diri dan semangat bersama di kalangan seluruh personel yang bertugas di Pasifik,” kata Departemen Pertahanan AS dalam pernyataannya.
Kepemimpinan Pasifik Amerika Serikat dibentuk oleh Presiden Harry Truman setelah berakhirnya Perang Dunia II.
PACOM beroperasi dengan nama tersebut selama lebih dari 70 tahun sebelum berubah menjadi Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat pada tahun 2018, sebagai bentuk pengakuan terhadap semakin meningkatnya peran Samudra Hindia dalam strategi global negara tersebut.
Mengapa Trump Mengganti Nama PACOM pada Tahun 2018?
Saat Menteri Pertahanan yang saat itu adalah Jim Mattis, mengumumkan perubahan nama dari PACOM menjadi INDOPACOM pada tahun 2018, tindakan ini bertujuan untuk mencerminkan perubahan signifikan dalam strategi Amerika Serikat.
Dasar dari pandangan tersebut adalah bahwa Samudra Hindia dan Samudra Pasifik telah menjadi wilayah geopolitik yang saling terkait.
Hal ini dipicu oleh perluasan armada laut Tiongkok, peningkatan kehadiran Beijing dari Laut Tiongkok Selatan hingga Samudra Hindia bagian barat, pentingnya jalur pelayaran yang menghubungkan Asia Timur dan Timur Tengah, serta munculnya India sebagai kekuatan maritim utama.
Konsep Indo-Pasifik memperkuat posisi India, bukan hanya sebagai kekuatan di Asia Selatan, tetapi juga sebagai salah satu poros utama dalam dinamika keseimbangan kekuatan di kawasan Asia.
Perubahan nama ini juga selaras dengan bangkitnya kembali Quad yang terdiri dari India, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia, serta upaya AS menciptakan jaringan keamanan yang mampu mengurangi pengaruh Tiongkok tanpa membentuk aliansi resmi seperti NATO.
Mattis secara langsung menghubungkan nama baru ini dengan semakin meningkatnya pentingnya kerja sama di kawasan Samudra Hindia.
Oleh karena itu, istilah “Indo” bukan hanya sebagai tanda lokasi, tetapi juga menyampaikan pesan yang strategis.
Mengapa Nama Baru Ini Menjadi Perhatian?
Pada kondisi biasa, pengembalian nama PACOM mungkin tidak akan mendapatkan banyak perhatian.
Namun keputusan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan India terkait konflik dengan Iran.
Salah satu penyebabnya adalah serangan Amerika Serikat terbaru di Selat Hormuz yang mengakibatkan tiga pelaut India meninggal dunia saat berada di kapal tanker niaga.
India merespons secara tegas, mengundang diplomat Amerika Serikat dan meminta pertanggungjawaban serta jaminan keamanan yang lebih baik untuk para pelautnya.
Sampai saat ini, Amerika Serikat belum memberikan permintaan maaf yang resmi.
Respons India
Bagi para analis di India, muncul pertanyaan mengapa istilah “Indo”, yang merujuk pada Samudra Hindia (Lautan India) dan secara simbolis mencerminkan posisi negara tersebut, justru dihilangkan ketika India seharusnya menjadi salah satu mitra strategis utama Amerika Serikat.
Berbagai tanggapan terhadap perubahan nama ini muncul, mulai dari penerimaan, kekecewaan, ajakan untuk memperkuat kemandirian strategis, hingga kritik keras di media sosial.
Seorang politisi dan penulis asal India, Shashi Tharoor, bahkan meragukan apakah tindakan tersebut merupakan “paku terakhir di peti mati Quad” melalui unggahannya di X.
Sejumlah pihak menganggap perubahan nama tersebut menunjukkan penurunan bobot strategis India pasca kejadian Hormuz dan di tengah perhatian Amerika Serikat yang beralih ke isu-isu lain.
Keputusan tersebut juga berpotensi memperkuat narasi bahwa Amerika Serikat mulai mengurangi peran mereka di Samudra Hindia, khususnya setelah terjadinya ketegangan di Selat Hormuz dan kesepakatan yang dicapai dengan Iran.
Ringkasan Serangan Amerika yang Mengakibatkan Kematian Tiga Awak Kapal India
Tiga nelayan India yang sebelumnya dilaporkan hilang akhirnya ditemukan meninggal setelah kapal yang mereka tumpangi diserang oleh pasukan Amerika Serikat di perairan Oman pada 10 Juni 2026.
Menteri Perhubungan India, Sarbananda Sonowal, mengumumkan informasi tersebut satu hari setelah terjadinya serangan.
Ia menggambarkan kejadian tersebut sebagai kehilangan yang “mengerikan” dan membenarkan bahwa jenazah ketiga pelaut yang hilang telah ditemukan.
Mengutip NDTV, kapal tanker minyak yang berbendera Palau, Settebello, mengangkut 28 kru yang terdiri dari 24 orang warga negara India dan empat warga asing, yaitu dua orang Pakistan, satu orang Ukraina, dan satu orang Rusia.
Tentara Amerika Serikat menyatakan bahwa kapal tersebut diserang karena diduga tidak mematuhi perintah dan membawa minyak dari Iran.
Awalnya, 21 pelaut India berhasil diselamatkan, sedangkan tiga orang lainnya yang kemudian dinyatakan meninggal dunia adalah kadet dek Aditya Sharma, mekanik mesin Shivanand Chaurasiya, dan kepala insinyur Patnala Suresh.
Komando Pusat Amerika Serikat kemudian mengakui serangan terhadap kapal tersebut dan menyatakan bahwa kapal itu melanggar pembatasan yang diberlakukan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dengan berusaha membawa minyak dari negara tersebut.
Berdasarkan informasi dari militer Amerika Serikat, sebuah pesawat tempur melepaskan tembakan ke kapal tanker di Teluk Oman sehingga membuat kapal tersebut tidak dapat bergerak.
Di unggahan di X, Komando Pusat AS mengatakan bahwa kru kapal sering kali tidak mematuhi perintah dari pasukan Amerika.
Saat menghadiri pertemuan puncak G7 di Prancis pada Rabu (17/6/2026), Donald Trump menyebut kematian tiga pelaut India.
Ia menyebut profesi seorang pelaut sebagai “pekerjaan yang berat” dan mengungkapkan bahwa kejadian serupa telah terjadi sejak dahulu kala.
Mengutip News18, meskipun Trump menyampaikan rasa belasungkawa kepada para pekerja maritim dan mengatakan bahwa AS serta India akan bekerja sama, ia tidak memberikan permintaan maaf secara langsung.
(majalahkoran.com)






